Seorang trader kripto dilaporkan mengalami kerugian hampir US$50 juta atau sekitar Rp845 miliar dalam satu transaksi setelah melakukan penukaran token di platform keuangan terdesentralisasi (DeFi). Insiden ini terjadi akibat slippage ekstrem saat transaksi berlangsung.
Berdasarkan data onchain, transaksi tersebut terjadi pada Kamis (12/3/2026) ketika sebuah wallet mencoba menukar 50.432.688 aEthUSDT melalui CoW Protocol. Token aEthUSDT merupakan token berbunga yang merepresentasikan USDT yang disimpan dalam protokol pinjaman terdesentralisasi Aave di jaringan Ethereum.
Token tersebut rencananya ditukar dengan aEthAAVE, yakni versi berbunga dari token tata kelola Aave. Namun karena likuiditas pada kolam perdagangan yang tersedia relatif tipis untuk transaksi sebesar itu, transaksi justru mengalami slippage lebih dari 99 persen.
Akibatnya, wallet tersebut hanya menerima sekitar 327 aEthAAVE setelah transaksi selesai. Nilai aset yang diterima diperkirakan hanya sekitar US$36.000 atau sekitar Rp609 juta. Selisih nilai yang sangat besar dari transaksi tersebut langsung dimanfaatkan oleh trader arbitrase dan perantara jaringan yang secara otomatis menangkap peluang perbedaan harga di pasar.
Fenomena kerugian besar akibat slippage sebenarnya bukan hal baru di ekosistem DeFi. Kondisi ini biasanya terjadi ketika seorang trader mencoba mengeksekusi order dalam jumlah sangat besar pada kolam likuiditas yang tidak cukup dalam.
Dalam situasi tersebut, sistem arbitrase otomatis akan dengan cepat memanfaatkan perbedaan harga yang muncul akibat transaksi besar tersebut. Akibatnya, harga eksekusi bisa bergerak sangat jauh dari harga yang diharapkan oleh trader.
Aave Buka Suara
Pendiri Aave, Stani Kulechov, menjelaskan bahwa sistem antarmuka sebenarnya sudah memberikan peringatan sebelum transaksi dilakukan. Dalam unggahannya di platform X, ia menyebut bahwa pengguna telah menerima beberapa peringatan mengenai potensi slippage yang sangat besar.
“Seorang pengguna mencoba membeli AAVE menggunakan US$50 juta USDT melalui antarmuka Aave,” tulis Kulechov.
Menurutnya, karena ukuran order yang sangat besar, sistem menampilkan peringatan mengenai slippage yang tidak biasa dan meminta pengguna untuk mengonfirmasi risiko tersebut melalui kotak persetujuan sebelum transaksi dapat dilanjutkan.
Kulechov menambahkan bahwa pengguna tersebut tetap melanjutkan transaksi setelah menerima peringatan tersebut melalui perangkat selulernya. Dengan kata lain, transaksi tidak dapat diproses tanpa persetujuan eksplisit dari pengguna yang menyadari risiko slippage tinggi.
Sementara itu, tim CoW Swap juga menyatakan bahwa tidak ada indikasi eksploitasi protokol atau aktivitas berbahaya dalam transaksi tersebut. Menurut mereka, transaksi berjalan sesuai dengan parameter order yang telah ditandatangani oleh pengguna.
Platform tersebut juga menegaskan bahwa antarmuka mereka telah menampilkan peringatan dampak harga yang jelas untuk transaksi dengan nilai sebesar itu.
Sebagai bentuk respons, tim Aave berencana menghubungi pengguna yang terdampak dan mengembalikan sekitar US$600.000 atau sekitar Rp10,15 miliar yang berasal dari biaya transaksi yang terkumpul.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah peristiwa likuidasi besar lainnya di protokol Aave. Pada awal pekan ini, sekitar US$27 juta atau sekitar Rp456,8 miliar dilaporkan terlikuidasi, yang menurut sebagian pelaku pasar kemungkinan dipicu oleh gangguan harga sementara pada token wstETH.
